Minggu, 16 November 2014

Pemuda dan Kebangkitan

Oleh : Ufairah Aabidah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imran 110)

Generasi muda mempunyai posisi yang penting dalam proses regenerasi suatu masyarakat atau bangsa. Generasi mudalah yang akan menyambut tongkat estafet kepemimpinan suatu negeri. Keberhasilan perjuangan suatu bangsa akan tercermin dari keberhasilannya melahirkan generasi penerus yang berkualitas sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat bangsanya sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Sebaliknya jika generasi penerus yang dihasilkan lemah, tidak bermoral, tidak mampu memikul tanggung jawab kebangkitan, maka perjuangan generasi sebelumnya akan tidak berarti. Karena generasi muda hanya akan menjadi generasi pemalas yang bangga dengan masa lalu bangsanya, tetapi rapuh pada zamannya.
Masa muda adalah lambang kekuatan, kekuasaan, vitalitas, dan energi. Secara umum merupakan masa ketika potensi dan kemampuan fisik, mental, dan intelektual serta moral seseorang berada dalam tingkat perkembangan dan daya guna yang optimal.Masa muda merupakan saat ketika pikiran dan daya kreasi menunjukkan kemampuan untuk menemukan dan menciptakan sesuatu dalam bentuk yang terbaik.
Sesuai dengan pengertian akil baligh, masa muda adalah saat seseorang mencapai posisi kematangan yang utuh, yang telah siap memikul serta menerima tugas dan tanggung jawab yang paling berat sekalipun.Sehingga pemuda di bebani pelaksanaan hukum dan dituntut untuk mempunyai sifat dasar pemuda yang senantiasa agresif, dinamis, inovatif, dan progresif.Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa tidak ada kebangkitan suatu bangsa tanpa kiprah kaum muda di dalamnya. Jiwa kepahlawanan, rasa ingin berkuasa, kemauan untuk bebas dari cengkraman belenggu penjajahan senantiasa tumbuh subur dalam aliran darah muda.Hal ini dapat dikaji dalam dokumen-dokumen kepahlawanan dan perjuangan dari berbagai negeri.Pemudalah yang berkiprah dalam perjuangan suatu bangsa, kobaran semangat mereka mendorong pergerakan roda-roda kehidupan masyarakat.
Berbicara mengenai kebangkitan, kita harus mengerti terlebih dahulu mengenai definisi dari kebangkitan itu sendiri.Menurut Prof.Dr. Fahmi Amhar, Pertama-tama kita gunakan definisi umum. Bangkit berarti bangun dari suatu kondisi yang dianggap memiliki kemampuan lebih rendah, misalnya dari posisi berbaring ke duduk, dari duduk menjadi berdiri, dan dari berdiri menjadi berjalan atau berlari.Dalam hal sosial-politik, bangkit adalah berubah dari posisi “mati” (statis) menjadi “hidup” (dinamis) secara sosial-politik. Dari kualitas, bangkit menuju hidup ini ada tiga tingkatan (level), yaitu : 1. Level-1 : bergerak kearah yang positif (self-build), tidak merusak diri sendiri (self-destroy), 2. Level 2: melakukan sesuatu yang ada hasilnya (produktif),yang tidak habis sekali pakai, 3. Level 3 : memberikan sesuatu yang kontributif kepada orang banyak atau masa sesudahnya.
Untuk ukuran sebuah bangsa, bangsa yang statis adalah bangsa yang sepenuhnya bergantung kepada bangsa lain, baik dalam perkara mempertahankan hidupnya, menjaga martabatnya, maupun mewujudkan cita-citanya. Kehidupan maupun keamanannya ada di tangan bangsa lain. Bahkan mungkin untuk pangan, air dan energi harus disuplai atau disubsidi bangsa lain. Hukum yang berlaku dan siapa penguasa yang menjalankan hukum itu sepenuhnya juga ditentukan bangsa lain.
Tentu saja, apa saja yang dianggap baik yang perlu diperjuangkan sebagai cita-citanya juga diberikan oleh bangsa lain yang menguasai bangsa tersebut. Bangsa tersebut menjadi “bangsa robot” meski mungkin memiliki kemajuan material yang tinggi seperti adanya konstruksi pencakar langit, pabrik-pabrik, perkebunan, pertambangan besar, atau penggunaan teknologi transportasi atau informasi yang canggih. Namun, semua kemajuan material ini dirancang asing, dioperasikan di bawah supervise asing dan keuntungannya juga paling banyak dinikmati oleh asing.
Sebuah bangsa dikatakan keluar dari kondisi statisnya ketika dia mulai merintis untuk memiliki kemauan sendiri guna mempertahankan kehidupannya, menjaga martabatnya dan mewujudkan cita-citanya. Proses inilah yang sering disebut perjuangan kemerdekaan. Persoalannya, sejauh mana kualitas “merdeka” setelah bangkit tersebut?
Sebuah bangsa dapat dikatakan telah bangkit pada level-1 ketika setelah merdeka benar-benar bergerak positif, kondisinya tidak sama atau makin buruk dengan sebelumnya. Namun, jika setelah “ merdeka” kemudian terjadi perang saudara, ekonomi memburuk, pendidikan tidak lagi berjalan, dan di jalanan berlaku hukum rimba, maka level-1 ini pun tidak tercapai.Baru setelah level-1 tercapai, bangsa itu dapat meraih level-2 atau level-3.
Level-2 adalah ketika kebangkitannya itu memberi dirinya kemampuan untuk produktif, menghasilkan SDM cerdas berkualitas, membuat sendiri fasilitas produksi yang mampu membuat dirinya mandiri, sekalipun belum lebih maju dari capaian material yang dimiliki Negara lain. Intinya bukan kualitas capaian materialnya, tetapi bahwa itu dirancang sendiri, dioperasikan sendiri dan keuntungannya lebih untuk mereka sendiri.
Pada level- 3, mereka benar-benar dapat memberikan kontribusi ke luar, bahkan ke masa sesudahnya.Kontribusi ini bergantung pada visi yang dia emban, bisa positif, bisa negatif. Mereka bisa membebaskan atau memajukan bangsa lain, bisa pula menjajah bangsa lain.
Kebangkitan adalah meningkatnya taraf berpikir, bukan meningkatnya tingkat ekonomi, tingkat sains, atau kemajuan materi. Karena, ketiga hal tadi tidak menjamin adanya kebangkitan pada suatu Negara. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa kebangkitan yang hakiki tidak akan terjadi kecuali berdasarkan pada mabda’ (ideologi). Mabda’ beliau definisikan sebagai “‘aqidah ‘aqliyah–keimanan yang diperoleh dengan cara berpikir–yang terpancar darinya aturan (nidzam)”. Beliau memandang bahwa ikatan ideologi inilah yang layak untuk mengikat manusia dengan manusia yang lain, bukan ikatan nasionalisme, patriotisme, atau ikatan maslahat.
Berkaca pada kondisi saat ini khususnya di Indonesia, dimana seharusnya kebangkitan dapat menjadi pembangkit untuk kebangkitan suatu Negara dan sesuatu yang sangat diidam-idamkan. Namun pada realitanya patut disayangkan, setelah lebih dari satu abad Hari Kebangkitan Nasional di peringati bangsa ini, fenomena yang terjadi sangat kontras dengan harapan dan keinginan. Penjajah fisik memang telah pergi.Namun, penjajahan non-fisik ternyata masih mencengkeram kuat di seluruh sendi kehidupan.baik di sektor politik, ekonomi, sosial, budaya maupun keamanan. Keterpurukan bangsa ini tercermin dari angka kemiskinan yang tinggi, kasus korupsi yang menggurita, penegakkan hukum yang bobrok, tingkat sex bebas yang tinggi dan masih banyak lagi. Padahal faktor pendukung untuk menjadi bangsa bangkit dan maju sudah ada pada bangsa ini.Di antaranya adalah potensi kekayaan alam yang begitu melimpah-ruah serta sumber daya manusia yang cukup luar biasa.
Tentu patut dipertanyakan, mengapa Indonesia tidak juga kunjung bangkit? Narasi sejarah mencatat, bahwa tidak cukup untuk membangkitkan Indonesia ketika negeri ini sudah sebanyak enam kali berganti pucuk pimpinan, bergilir pula wajah-wajah baru di jajaran kabinet maupun wakil rakyat, juga beberapa kali bangsa ini melakukan eksperimen sistem kenegaraan dengan menjajal beberapa bentuk sistem Negara, zaman Orde Lama dengan nuansa sosialismenya, zaman Orde Baru dengan corak kapitalismenya, dan era reformasi dengan corak liberalnya. Ternyata hasilnya adalah nol.
Ada beberapa faktor penyebab mengapa negeri ini tidak juga kunjung bangkit. Pertama: Penguasa yang tidak layak memimpin. Kebangkitan suatu bangsa membutuhkan seorang pemimpin yang kredibel, kualitas dan integritas pemimpin tersebut harus memenuhi persyaratan.Hal itulah yang belum ditemuakan pada pemimpin-pemimpin di Indonesia selama ini.Sebagai contoh presiden pertama RI, meski memiliki beberapa disiplin ilmu, dipandang tegas dan berani, penguasa yang satu ini tidak memiliki pemikiran ideologi yang shohih. Salah satu blunder politik yang telah ia lakukan adalah ketika dia memaksakan pemikiran NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis) kepada masyarakat dan bersikeras menolak pembubaran PKI sehingga membuat Indonesia merana.
Presiden- presiden Indonesia selanjutnya cenderung tunduk kepada pihak asing, alhasil, penjajah di negeri ini pun semakin mencengkeram. Penguasa yang seharusnya mengurusi urusan rakyat malah seringkali membuat kebijakan yang menambah derita rakyat, seperti menyerahkan kekayaan alam kepada pihak asing, menaikkan harga BBM, menjual aset-aset Negara, dsb. Rasulullah saw bersabda, “ jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Seorang sahabat bertanya, “ Bagaimana amanat disia-siakan?” Nabi saw menjawab,” jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. al-Bukhari).
Kedua: Mental para pejabat, termasuk di dalamnya aparat penegak hukum, yang melanggar hukum. Korupsi, suap-menyuap dan perilaku hedonis sudah menjadi budaya bagi mayoritas pejabat. Riset global barometer 2009 oleh Tranparancy International (TI) menyatakan, korupsi tertinggi adalah di parlemen, lalu disusul institusi peradilan, Parpol, dan pegawai publik. Ketiga: Sistem Negara yang lemah. Negara yang tidak punya idologi tersendiri menyebabkan negara tersebut hanya mengikiuti negara lain atau menjadi negara pengikut. Negara ini tidak punya dasar yang kuat dalam melaksanakan setiap kebijakannya, dan setiap kebijakan di dalam negerinya selalu disetir oleh asing, kita lihat bagaimana Indonesia sebagai negeri pengikut negara adidaya saat ini (baca: AS), hal tersebut dapat dilihat dengan salah satu perkataan SBY yang mengatakan “USA is my second country” Keempat: Belum terbentuknya kesadaran ideologis ditengah-tengah masyarakat.Masyarakat saat ini yang hidup ditengah gempuran pemikiran asing seperti hedonisme, materialisme, liberalisme, konsumerisme serta sekulerisme kemudian ditengah-tengah masyarakat terdapat ikatan-ikatan yang merusak seperti nasionalisme, patriotisme, sukuisme, komunisme, dll. Kelima: Ulama yang kurang mengindahkan perannya. Peran ulama sangat penting dalam kehidupan suatu masyarakat, ulama adalah pewaris para nabi yang meneruskan risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi saat ini banyak ulama yang tidak melaksanakan perannya dalam mengoreksi penguasa, kebanyakan dari mereka hanya berpusat di pesantren-pesantren dan tidak jarang dari mereka yang mengharamkan politik, padahal dalam islam politik adalah mengurusi urusan umat. Tidakah mereka menyimak hadist Rasulullah SAW: “Penghulu syuhada adalah Hamzah dan setiap orang yang berdiri di hadapan penguasa, lalu menyerukan kebaikan serta melarang kemungkaran, kemudian penguasa itu membunuhnya” (HR. Abu-Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hajar al-Hatami dalam majmuu’ al-zaaid)
Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang manusia, alam dan hidup. Agar pemikiran itu menjadi sempurna harus dihubungkan dengan sesuatu yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Dengan demikian manusia akan mengetahui asal usulnya, alam semesta dan kehidupan sebagaimana juga dia akan mengetahui tempat kembalinya. Oleh karena itu harus ada perubahan dari pemikiran manusia yang sempit menjadi pemikiran yang utuh dan benar agar dapat mencapai kemajuan dan kebangkitan. Pemikiran akan memberikan pemahaman yang membawa pengaruh terhadap tingkah laku manusia, alam dan kehidupan. Kebangkitan yang diartikan sebagai meningkatnya taraf perekonomian dan taraf perilaku akhlak tidak dapat digolongkan kebangkitan. Kebangkitan itu bisa benar dan bisa keliru. Sebagai contoh Amerika Serikat mengalami kebangkitan tetapi kebangkitanya tidak benar karena tidak berasaskan ruhiyah. Kebangkitan yang benar adalah meningkatnya taraf berfikir berdasarkan atas asas ruhiyah (pemikiran islam).
Metode untuk mencapai kebangkitan itu adalah dengan menegakkan pemerintahan yang didasarkan pada pemikiran, bukan hanya berdasarkan pada peraturan atau perundangan. Dari pemikiran akan muncul pemecahan yang akan mengatasi segala persoalan kehidupan (dari pemikiran tersebut akan menghasilkan peraturan, perundangan, dan hukum). Sebagai contoh Amerika Serikat bangkit atas dasar pemikiran yang sekularisme, Rusia bangkit atas dasar pemikiran yang materialisme.
Pemikiran yang dimaksud adalah pemikiran Islam yaitu akidah Islam itu sendiri.Negara dibangun diatas landasan Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah, kemudian di terapkan hukum Islam. Umat Islam saat ini, jika memang menginginkan kebangkitan haruslah menjadikan akidah Islam sebagai asas yang menjadi arahan kehidupan dan menyelesaikan seluruh problematika dengan hukum-hukum yang terpancar dari akidah tersebut yaitu hukum syara’ sebagai bagian dari perintah dan larangan Allah, maka kebangkitan itu akan muncul sebagai kebangkitan yang shohih. Umat Islam akan mampu mencapai puncak kegemilangan lagi untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah yang kedua, InsyaAllah.
Inilah salah satu peran yang harus dilakukan oleh para pemuda Islam saat ini yang ingin membangkitkan Islam dan kaum muslimin. Bahwasanya peran pemuda sangatlah besar. Penulis mengajak seluruh pemuda Islam agar bersatu untuk membangkitkan Islam, mengembalikan kejayaan umat, serta bersama untuk menegakan Daulah Khilafah Rasyidah yang sudah disebutkan diatas. Ini adalah tugas kita bersama yang sebentar lagi terwujud insya Allah dan akan memberi rahmat bagi seluruh alam, muslim maupun non muslim.(UFA)

Wallahu ‘alam bi ash-shawab

KRISIS GENERASI DAMBAAN UMMAT

Pemuda, siapa yang tak kenal kata yang satu ini? Hampir semua orang mengerti akan makna dari satu kata sederhana ini. Dia bak pelita di ujung harapan. Dia adalah tonggak suatu peradaban. Pemuda adalah generasi yang akan meneruskan kehidupan sebuah negara. Dia memiliki peran penting dalam sejarah kemerdekaaan Indonesia maupun sejarah penyebaran agama Islam selama 1300 tahun lamanya. Ibarat matahari maka usia muda ibarat jam 12 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas (Yusuf Qardhawi).

Pemuda dengan Sumpah Pemuda-nya
Masih ingat dengan peristiwa Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928? Sumpah Pemuda ini berisi tentang janji dari para pemuda Indonesia yang akan setia berbangsa Indonesia, Bertanah air Indonesia dan berbahasa Indonesia.  Ini merupakan janji pemuda Indonesia pada masa lalu yang akhirnya berbuah kemerdekaan hingga saat ini. Pemuda Indonesia juga memiliki tujuan mulia yaitu menjadikan negeri ini negeri yang bermoral, bermartabat, peduli dengan sesama dan hidup dalam kesejahteraan. tapi pertanyaannya, apakah semua tujuan tersebut telah tercapai??

Fakta pemuda saat ini
Berdasarkan data yang disampaikan Komisi Nasional Perlindungan Anak pada tahun 2008, dari 4.726 responden siswa SMP dan SMA di 17 kota besar, sebanyak 62,7 % remaja SMP sudah tidak perawan dan 21,2% remaja mengaku pernah aborsi (Kompas.com, 14/03/12). Zoy Amirin, pakar psikologi seksual dari Universitas Indonesia, mengutip Sexual Behavior Survey 2011, menunjukkan 64 % anak muda di kota-kota besar Indonesia ‘belajar’ seks melalui film porno atau DVD bajakan. akibatnya, 39 % responden ABG usia 15-19 tahun sudah pernah berhubungan seksual, sisanya 61% berusia 20-25 tahun. survei yang didukung pabrik kondom Fiesta itu mewawancarai 663 responden berusia 15-25 tahun tentang perilaku seksnya di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali pada bulan Mei 2011. penyalahgunaan narkoba dikalangan pemuda pun makin menggila. Badan Narkotika Nasional menemukan bahwa 50-60% pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI adalah sebanyak 3,8 sampai 4,2 juta. diantara jumlah itu, 48%  diantaranya adalah pecandu dan sisanya sekedar coba-coba dan pemakai.
Berdasarkan data diatas, terbukti bahwa mayoritas  para pemuda saat ini lebih menggunakan energinya untuk memenuhi nafsunya saja tanpa memperhatikan resiko yang akan ditimbulkan. Mereka juga hidup dengan penuh kebebasan, melakukan segala sesuatu semaunya saja dan berlomba-lomba untuk meraih kebahagiaan dunia sebanyak-banyaknya, tanpa memperdulikan bertentangan dengan agama ataukah tidak. Tujuan hidup kebanyakan para pemuda saat ini pun banyak yang bertentangan dengan aturan Tuhannya. Mereka hanya mencari kepuasan diri dan merasa ingin diakui oleh orang-orang disekitarnya walaupun dengan cara yang tidak pantas untuk dilakukan. Mayoritas pemuda saat ini lebih senang hang out bersama teman-temannya, nongkrong di mall, menghabiskan uang di distro-distro, shoppingholic, berburu gadget terbaru dan barang-barang branded, sibuk di jejaring sosial dunia maya atau ikut-ikutan generasi alay. Parahnya, ini semua dilakukan oleh generasi kebanggaan dan dambaan ummat mulai dari anak-anak, remaja, bahkan para mahasiswa.
Saat ini para mahasiswa juga disibukkan dengan berbagai tugas, entah tugas dari dosen ataupun tugas dari organisasi kampus.Mereka seperti dilingkari dengan aktivitas rumah-kampus-rumah yang pada akhirnya banyak dari mereka yang merasa jumud. ketika perkuliahan selesai, para mahasiswa ini lebih senang mencari hiburan seperti hal-hal diatas sebagai refreshing yang pada akhirnya banyak waktu mereka yang terbuang percuma. Dan akibatnya, banyak para mahasiswa yang akhirnya menjadi apatis terhadap keadaan sekitarnya dan malas untuk berpikir mengenai berbagai masalah yang ada di negeri ini sekalipun masalah tersebut sebenarnya adalah masalah yang akan menghancurkan negeri ini secara perlahan.

Apa Penyebabnya?
Hampir di seluruh dunia terutama Indonesia mengalami kemerosotan berpikir. budaya-budaya barat mulai bercokol dalam setiap negeri. pengaruh kapitalis-sekuler-liberalis mulai berhembus kencang ditengah-tengah masyarakat. Asas sekulerisme yakni pemisahan agama mulai diterapkan ditengah-tengah kehidupan, agama dikesampingkan dan hanya digunakan dalam aktivitas ibadah saja, sementara dalam kehidupan sehari-hariaturan dibuat sendiri sesuai kemauan dan manfaat. Inilah akar permasalahan kehidupan yang ada dinegeri ini. Agama yang seharusnya menjadi pedoman bagi umat manusia dalam kehidupan justru digantikan dengan aturan buatan manusia sendiri yang sebenarnya memiliki banyak kelemahan dan kekurangan, bahkan melahirkan kesengsaraan bagi manusia sendiri.
Sederet potert buram kehidupan pemuda saat ini menjadi bukti kegagalan sistem kapitalis-sekuler yang bersarang dalam seluruh aspek kehidupan seperti pendidikan, keluarga, lingkungan dan negara.
Institusi pendidikan dinegeri ini dapat dikatakan buruk.Pendidikan yang seharusnya mencetak generasi cemerlang justru lebih banyak mencetak generasi jumud dan apatis-pragmatis.Banyak guru yang hanya mentransfer ilmu tanpa menghubungkan dengan nilai-nilai agama.Bahkan mengajar pun dilakukan hanya untuk menggugurkan kewajiban. Banyak guru yang merasa terbebani dengan setumpuk bahan ajar yang harus disampaikan kepada siswanya. Selain itu para guru juga dipusingkan dengan masalah ekonomi yang sangat menghimpit, di sisi lain biaya pendidikan yang tinggi pun memaksa generasi penerus negeri ini untuk tidak mengenyamnya.
Sistem kapitalis tak hanya merusak pendidikan, keluarga pun terkena imbasnya. keluarga merupakan pendidik utama bagi setiap insan sistem kapitalisme memaksa orangtua abai terhadap pendidikan anaknya. Beban hidup yang semakin mencekik memaksa kedua orangtua untuk bekerja hingga jauh malam.Sibuknya orangtua membuat waktu kebersamaan keluarga menjadi mahal harganya.Anak pun terabaikan. Pada akhirnya banyak anak yang melarikan diri ke televisi, internet, HP dan media elektronik lainnya. Padahal dari media-media tersebutlah anak mendapatkan pengaruh buruk tentang pergaulan bebas, hidup konsumtif, kekerasan dan aktivitas kriminal lainnya.Anak tidak mengenal kasih sayang, perhatian justru didapat dari teman, geng bahkan komunitas lain dijalanan dan lingkungan masyarakat yang sudah tak lagi bersahabat.

Apa solusinya?
Semua fakta diatas terjadi karena kehidupan masyarakat saat ini didasari dengan asas pemisahan agama dari kehidupan, akibat diterapkannya sistem Kapitalisme. maka solusi yang mampu menyelesaikan semua problematika ini adalah memperbaiki sistem yang ada dengan mengembalikan agama dalam kehidupan. Agama tak hanya digunakan dalam ibadah saja, tapi agama juga dijadikan pedoman dan standar kehidupan.
Tak hanya itu, keluarga, pendidikan, masyarakat dan negara pun turut andil dalam menyelesaikan problema ini. semuanya harus bersinergis dan bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian yang baik dan mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi para pemuda.
Keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Disanalah pertama kali dasar-dasar keislaman ditanamkan. Anak dibimbing orangtuanya bagaimana ia mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada sang Pencipta, Allah SWT. Keluarga harus mengarahkan anak agar dewasa secara pemikiran (aqil) seiring dengan kedewasaannya secara biologis (baligh) dan Orang tua (terutama ibu) meningkatkan daya pengaruhnya terhadap anak sebagai langkah pengarahan individual.
Masyarakat, mempunyai peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan pemuda. Masyarakat merupakan sekumpulan orang yang memiliki perasaan, pemikiran dan peraturan yang sama. Dalam interaksi pun diatur dengan aturan yang sama. tatkala masyarakat ini memandang betapa pentingnya menjaga suasana kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi muda, maka masyarakat akan sepakat memandang mana pengaruh yang akan membawa pengaruh negatif dan mana yang membawa pengaruh positif. Jika ada aktivitas yang membawa pengaruh negatif maka masyarakat akan bersama-sama mencegahnya dan mengalihkan aktivitas tersebut kepada hal yang lebih bermanfaat. Inilah peran penting masyarakat sebagai kontrol sosial.
Adapun pendidikan, secara paradigmatik pendidikan harus dikembalikan pada asas akidah Islam yang akan menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar-mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru/dosen serta budaya sekolah/ kampus tempat pemuda eksis didalamnya. Pendidikan berasaskan islam harus diajarkan kepada pemuda sejak TK hingga universitas yang pada ujungnya nanti mampu manghasilkan output peserta didik yang berkualitas dan juga berkepribadian islam. Tak hanya menguasai teknologi, peserta didik pun diharapkan mampu menguasai tsaqafah islam dan ilmu-ilmu kehidupan.
Negara sebagai penyelenggara pendidikan haruslah menerapkan kurikulum yang menjamin tercapainya generasi berkualitas. Negara juga wajib mencukupi segala sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan pendidikan secara layak, menyediakan pendidikan bebas biaya bagi rakyatnya, serta menyediakan pendidik-pendidik yang handal. seorang pendidik haruslah menjadi teladan bagi anak didiknya, mempunyai semangat pengabdian yang tinggi. seorang pendidik bukan sekedar penyampai ilmu, tetapi juga seorang pendidik pembina generasi. Dan agar pendidik mampu menjalankan tugasnya dengan baik bawa negara haruslah menjamin penghidupan atas mereka.
Lebih dari itu negara pun harus mengontrol dan menindak tegas hal-hal yang akan merusak generasi, terutama media yang banyak memberikan pengaruh negatif terhadap generasi.
Peran negara yang seperti ini tentu tidak terdapat dalam sistem kapitalis. hanya negara yang menerapkan Islam kaffahlah  yang mampu menjalankan peran ini. Oleh karena itu berharap menghapus potret buram kehidupan pemuda pada sistem kapitalis ini bagaikan mimpi di siang bolong. Karena itu sudah saatnya menghapus potret buram pemuda dengan tatanan aturan yang berasal dari Allah SWT berupa Khilafah Islamiyah . (FRA)


Wallahualam bi ash shawwab.

Kamis, 17 April 2014

SILANG PENDAPAT teori KEPRIBADIAN (Islam vs Jahiliyah)

Dalam menggali potensi Sumber Daya Manusia yang sangat dibutuhkan saat ini oleh sistem Kapitalisme, Kepribadian menjadi faktor penentu masa depan seseorang. Tinggi-rendah, baik-buruk, maupun pintar-bodohnya manusia mengindikasikan sifat kepribadian. Maka dari itu untuk mencari standarisasi Kepribadian yang mapan diperlukan seorang konsultan berikut disiplin ilmunya. Psikologi dan para psikolog, 2 kata yang akrab dalam menganalisa kepribadian, sangat familiar dalam hal ini.

Para psikolog dengan beragam teori serta metodenya mempunyai banyak persepsi mengenai Kepribadian. Sebut saja, Sigmund Freud yang terkenal dengan Psikoanalisis-nya menyatakan bahwa seksualitas merupakan faktor utama penggerak kehidupan manusia. Dia berpandangan bahwa seksualitas tak boleh dicegah karena bisa membuat manusia kehilangan orientasi hidup (sakit jiwa). Lalu dia juga menyatakan, bahwa menjaga diri dari praktek hubungan seksual sebelum kawin sering mengakibatkan rusaknya insting ketika kawin. Artinya seksualitas tidak ubahnya kebutuhan pokok seperti makan-minum-tidur, yang jika tidak terpenuhi manusia akan mengalami kematian. Inilah yang menjadikan masyarakat Barat sangat permisif atas perkara hubungan sosial pria-wanita dimana sex bebas merupakan perkara normal bahkan asasi.


Teori-teori Sigmund Freud sekarang ini mulai ditinggalkan, disebabkan tidak menghasilkan solusi jitu bagi pembentukan Kepribadian manusia. Di masa sekarang seorang psikolog, Florence Littauer, memunculkan teori tentang 4 elemen dasar Kepribadian. Bukunya yang berjudul Personality Plus bertema ‘Bagaimana memahami orang lain dengan memahami diri sendiri’, menjadikannya buku terlaris dengan beberapa kali cetak dan revisi. Littauer membagi manusia menjadi 4 tipe yaitu Sanguinis, Koleris, Melankolis, dan Phlegmatis beserta sisi positif dan negatifnya.

Padahal betulkah manusia hanya mempunyai satu tipe seperti penjelasan Littauer? Selain itu seseorang bisa saja menjadi Melankolis atau lainnya sesuai dengan situasi / kondisi. Terlebih dengan adanya informasi juga bisa mengubah persepsi orang tadi.

Pizzaro Novelan Tauhidi, dalam artikelnya, ”Theosofi: Kalau Mau Menjadi Muslim Sejati, Lafaz Allah harus Diartikan Air, Api, Angin, dan Bumi”, juga mengkritik faham yang dibawa Florence Littauer ini. Menurutnya pula, bahwa teori 4 elemen dasar kepribadian ini merupakan modifikasi atas teori-nya Hippocrates, 400 tahun sebelum Masehi. Bahkan jika menganalisa lebih jauh ternyata 4 elemen dasar ini ada dalam kitab Zohar dan merupakan salah satu kitab ajaran Kabbala, aliran kebatinan Yahudi tentang penciptaan Alam semesta (Makrokosmos) dan Nabi Adam (Mikrokosmos). 

Dalam buku Psikologi Tarot, Tawaran Alternatif Konseling lewat Kartu Tarot, Mengkaji Tarot melalui pendekatan ilmu psikologi dan mematahkan konsep tarot sekadar ilmu klenik semata, karangan Leonardo Rimba dan Audifax, hal. 61 dijelaskan juga melalui tabel tentang 4 elemen dasar penciptaan yaitu udara, api, air, bumi:


Dengan mengamati tabel tersebut tersingkaplah bahwa gambaran Tuhan yang menurut ajaran Kabbala itu bernama YHWH (baca: Yahweh), pada baris Tetragrammanton, digambarkan lewat 4 unsur (air, api, tanah, udara) dan termanifestasi dalam 4 Kartu utama Tarot :


Tradisi meramal nasib lewat Kartu Tarot merupakan aktivitas konsultasi seseorang mengenai masa depan. Ajaran Islam secara tegas mengharamkan perbuatan ini:

Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan percaya kepada ucapannya maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad Saw. (Hadits Riwayat Abu Dawud)

Allah Swt. dalam al-Quran juga menjelaskan tentang ketidaktahuan bangsa jin (atas rahasia langit / nasib manusia), yang menjadi informan kepada para peramal:

Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. (Quran Surah Al-Jiin: 8-10)

Walhasil, apa yang dirumuskan oleh Littauer bukan hal baru, melainkan konsep Jahiliyah Modern. Akan tetapi syaithan, baik yang berupa jin dan manusia sangat hebat mengemas kekafiran supaya terus dipakai manusia di setiap zaman-nya. Padahal inti dari ajaran ini sama, hanya beda covernya saja.                    

Sesungguhnya dalam kehidupan beserta interaksinya, kita menemukan dua hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu Hadharah dan Madaniyah. Hadharah adalah sekumpulan mafahim (ide yang dianut dan mempunyai fakta) tentang kehidupan. Sedangkan Madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera serta digunakan dalam seluruh aspek kehidupan. (Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhamul Islam bab Hadharah Islam)

Hadharah bersifat khas karena terkait dengan persepsi suatu kaum alias pandangan hidup. Akan tetapi Madaniyah bisa bersifat khas atau bisa juga bersifat umum. Yang khas yaitu bentuk fisik yang mencirikan simbol kaum tertentu seperti salib, bintang hexagram, palu arit, jangka siku freemason, mata satu illuminati, swastika, dll.


Seorang muslim dilarang menggunakan madaniyah seperti ini karena bisa menimbulkan dugaan ’termasuk bagian dari kaum tersebut’. Selain itu ada juga larangan dari Rasulullah Saw. tentang ber-tasyabuh (menyerupai orang kafir). Lalu yang bersifat umum meliputi bentuk fisik juga, seperti hasil kemajuan sains dan teknologi adalah materi bebas nilai. Ilmu-ilmu Sosial yang notabene subjektif dan tergantung ’pencipta’ teorinya, tergolong sebagai Hadharah. Apalagi yang menyangkut filsafat, agama atau ramalan dengan bungkus Psikologi seperti di atas.

Lalu seperti apa kita mendefinisikan Personality / Kepribadian secara objektif? Definisi yang bukan berdasarkan kesimpulan sepihak / subjektif, melainkan yang masuk akal, sesuai fitrah, dan menenangkan hati??? Apakah Islam tidak mengajarkan pembentukan Kepribadian?

Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani merumuskan bahwa Kepribadian atau Syakhsiyah adalah perpaduan pola pikir dan pola sikap yang ada pada manusia. Kepribadian Islam adalah penyatuan pola pikir dan pola sikap yang terikat dengan aturan Allah swt. Baik buruknya pribadi manusia bergantung dari persepsi yang gunakannya memahami fakta sebagai pola pikir dan tindakannya terhadap fakta tersebut sebagai pola sikap. Maka untuk memperbaiki / mengubah kepribadian seseorang diperlukan pemahaman yang solutif sebagai persepsinya.    


Jika kita bedah dalam diri manusia, yang disebut pola pikir (Aqliyah) itu meliputi aktivitas menganalisa dan menghukumi fakta / peristiwa yang ada. Namun sebatas menganalisa dan menghukumi saja tidak dapat disebut berpikir melainkan hanya menduga-duga. Cara agar terbentuk pola pikir adalah memberikan informasi yang jelas atas sebuah fakta / peristiwa. Bagi kita, kaum muslim, informasi untuk menghukumi fakta (alam semesta, manusia, dan kehidupan) adalah Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. sebagai pedoman hidup.

Selain pola pikir, ada juga pola sikap (Nafsiyah) yaitu tindakan seseorang setelah memahami fakta / peristiwa. Dalam diri manusia terdapat dua unsur pemenuhan untuk menjalani kehidupannya, yaitu Naluri dan Kebutuhan Jasmani. Mengenai Naluri terdapat 3 jenis yang ada pada semua orang yaitu Agama, Cinta dan Pertahanan diri. Disamping itu, ada juga yang disebut Kebutuhan Jasmani seperti makan, minum, istirahat, dan buang hajat. Tindakan yang diambil seseorang dalam menjalani kehidupan ini pada dasarnya melibatkan dua unsur pemenuhan tadi.

Jika tidak dipenuhi Kebutuhan Jasmaninya maka dia akan menemui kematian dan jika tidak dipenuhi Nalurinya maka akan menyebabkan kehampaan, kegelisahan bahkan kesesatan. Contohnya, orang yang tak beragama tidak mengalami kematian tetapi kekosongan total-lah yang menyelimuti tujuan hidupnya. Orang yang tidak menikah akan hampa tanpa seorang pendamping, tapi tidak berakibat kematian baginya. Inilah bantahan telak atas pendapat Sigmund Freud yang menyatakan seksualitas sebagai kebutuhan biologis (jika tak dipenuhi akan mati). Lalu orang yang tidak mempertahankan diri dengan pembelaan atas perkara yang menimpanya, akan kehilangan harga diri walaupun tidak berakibat kematian baginya.

Lalu bagaimanakah cara memenuhi Naluri dan Kebutuhan Jasmani agar terbentuk Kepribadian Islami? Jika anda lapar, makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Juga makanlah yang halal dan baik. Jika anda suka / cinta seseorang, maka nikahilah agar diri dan pasangan anda selamat serta dikaruniai keturunan sebagai pelanjut generasi. Jika dalam diri anda muncul semangat beribadah, ikutilah Rasulullah saw., manusia pertama yang mulia di antara 100 tokoh dunia. Jangan ikuti petuah sesat semodel Gatoloco, Darmogandul dll yang tak jelas riwayatnya. Jika diri, keluarga dan agama dilecehkan maka lawanlah dengan berjihad karena itu jalan praktis melindungi semuanya.    

Maka dari itulah seorang muslim selayaknya wajib menggunakan Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. sebagai pola pikirnya dan mengikatkan segala tindakannya dengan keduanya melalui 5 Pilar Hukum Islam yaitu Wajib, Sunnah, Haram, Makruh dan Mubah. Jika seorang muslim tidak mengikatkan pola pikir dan pola sikapnya dengan Islam, akibatnya bisa terjadi split personality atau Kepribadian Amburadul. 



Senin, 24 Maret 2014

Siapa sih manusia itu?

Pemahaman yang kita dapat dari sekolah dulu tentang sejarah seolah-olah membentuk dugaan sepihak kalo manusia itu ada dengan sendirinya. Gimana tidak?! Wong tiba-tiba kita disuguhin penemuan fosil-fosil orang purba sampe yang disebut Homo-homo-an. Katanya sih jaman itu disebut Pra-Sejarah karena belum ditemuin yang namanya tulisan.

Setelah itu masuk zaman Sejarah, mulai dari Mesir Kuno, Babi Lo Nia, Yu’ Nani, Romawi, dan Hindustan yang jadi cikalbakal kebudayaan Asia.   

Ehh....tiba-tiba loncat ke Renaisance, Revolusi Perancis, Revolusi Industri....trus...masuk deh ke jaman Perang Dunia I, II, dan terbentuk negara-negara bangsa! Loh....emangnya dari jaman Mesir Kuno ke Perang Dunia gak ada kehidupan apa? Lalu.... kemana tuh yang disebut Nabi Adam A.S. yang pernah diajarin ustadz, ustadzah waktu kita kecil berkaitan ama jaman Pra-Sejarah???!!!

Wah.... kayaknya ada dua dunia yang beda paham nih? Bicara sejarah, pastinya ngomongin dari mana asal manusia itu sebagai pelakunya. Dan apakah manusia itu makhluk kebetulan atau.....???

Hhmmm...Manusia itu adalah ciptaan Sang Khalik. Apa buktinya?

Mari kita simak, manusia berasal dari sel sperma yang bertemu dengan sel telur, dari pertemuan keduanya berkembanglah menjadi janin dan akhirnya lahir melalui rahim seorang ibu. Banyak orang telah melakukan penelitian tentang manusia, berikut beberapa fakta2 yang sangat luar biasa tentang manusia :
  •    Manusia kehilangan 45-60 helai rambut setiap hari, tetapi kerana manusia memiliki 125.000 helai rambut baru setiap hari kita sebagai manusia tidak menyadari hal tersebut.
  •    Otak manusia mempunyai kurang lebih 10 milyar sel saraf, yang mempunyai kemampuan merekam lebih dari 86 juta bite  (lebih kurang 11juta huruf) / perhari atau jika dikalkulasikan memori manusia selama hidupnya mencapai 100 triliun bite  (sekitar 12,5 triliun huruf).
  •    Sel darah merah di dalam manusia yang mempunyai masa hidup sekitar 4 bulan menempuh perjalanan sekitar 1.600 km di dalam tubuh kita selama masa hidupnya.
  •    Rangkaian saraf otak manusia yang kini baru sebahagian dipetakan oleh ahli saraf, mempunyai daya kompleks 1400 kali lebih kompleks jika dibandingkan dengan rangkaian telepon saat ini.
  •    Jantung setiap hari menghabiskan tenaga yang besarnya cukup untuk mengangkat beban seberat hampir 1 ton ke ketinggian 13 meter. Maka sebagai contoh, jantung manusia yang telah berumur 50 tahun telah melakukan kerja yang sama dengan mengangkat beban 18.000 ton ke ketinggian 230 km. Subhanallah.

Namun ada yang bilang, manusia tercipta secara kebetulan. Pertanyaannya sekarang, terbentuknya manusia yang sangat sistematis (memiliki pola) dan kompleksnya (rumitnya) tubuh manusia, mungkin g manusia ada secara kebetulan?

Untuk membantu menjawab pertanyaan itu, gw kasih contoh kaya gini, ada sebuah kapal pesiar yang sangat besar dan canggihnya luar biasa. Mungkin gak kapal pesiar itu terbentuk secara kebetulan atau memang ada yang dengan sengaja membuatnya?

Gw kasih contoh lagi, ketika gw keluar rumah, di depan pintu rumah gw ada uang kertas Rp.50.000, tp gw gak tau,  tu uang punya siapa? lalu di hari berikutnya gw nemuin lagi uang kertas Rp.50.000 dan lusanya gw kembali nemuin uang kertas Rp.50.000, nah kalo kejadiannya kaya gitu, apakah itu terjadi secara kebetulan atau memang ada orang, yang  dengan sengaja menaruh uang kertas disitu?

Dari kedua contoh tadi kita bisa melihat dengan jelas, jika suatu kejadian yang memiliki sifat sistematis atau 2 sifat sekaligus (sistematis dan kompleks), tidak bisa kita katakan, hal itu terjadi secara kebetulan. Apalagi proses terbentuknya manusia sangatlah sistematis dan kompleksnya tubuh manusia. Jadi kenyataan bahwa itu semua sudah ada yang mengatur atau sudah ada yang menciptakan tidak bisa terbantahkan lagi. Dan itu semua diciptakan oleh suatu Dzat yang bernama Sang Khalik.

Setelah kita tahu, manusia itu adalah ciptaan Sang Khalik, timbul pertanyaan lagi dalam diri kita. Untuk apa kita diciptakan?. Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita harus memahami sifat yang umumnya dimiliki suatu ciptaan yaitu ciptaan tidak akan pernah tau untuk apa dia diciptakan. Misalnya gini, “Kita semua tau yang nyiptain telpon adalah alexander graham bell, pertanyaannya sekarang, yang paling tau fungsi telpon buat komunikasi siapa? telpon itu sendiri atau alexander graham bell?”. Sama halnya dengan manusia yang memiliki kedudukan sebagai ciptaan, yang paling tau dia diciptain buat apa, ya hanya Sang Khalik aja yang tau. Trus ada yang nyeletuk gini, “telponkan nggak bisa ngomong plus nggak punya akal, jadi wajar dong dia nggak bisa jawab pertanyaan itu. Trus manusiakan punya akal, bahkan banyak hal, yang bisa manusia lakukan dengan akalnya seperti membuat pesawat, bendungan penahan banjir, kapal induk yang sangat besar dsb”.

Namun permasalahannya adalah mau dia bisa ngomong atau nggak bisa ngomong, mau dia punya akal atau nggak punya akal, keadaannya pasti sama, dia nggak bakal bisa jawab, karena itu merupakan sifat dari ciptaan. Mau bukti?

Mari disimak, akal manusia itu sejatinya bersifat terbatas, dia hanya dapat bekerja pada objek2 yang dapat kita indera, sedangkan yang namanya tujuan kita diciptakan adalah sesuatu yang nggak bisa kita indera. Mau bukti kalo akal nggak bisa bekerja pada objek2 yang nggak bisa diindera, begini contohnya, “bisa nggak lo mastiin dengan akal lo kalo 1 hari kedepan lo bakalan tetep hidup? oke gw turunin, kalo 1 jam kedepan bisa g lo pastiin kalo lo bakalan tetep hidup? oke gw turunin lagi deh, kalo 20 detik kedepan lo bisa g mastiin kalo lo bakalan tetep hidup? lalu gw tanya lagi, yang namanya masa depan bisa g kita indera?. Trus 1 contoh lagi, gw punya dompet yang tertutup rapat dan didalamnya berisi uang, dan dengan akal lo, lo bisa nggak mastiin dengan pasti berapa banyak uang yang ada didompet gw? Lalu uang yang berada didalam dompet gw bisa lo indera g?”. Dari sini kita bisa melihat bahwa manusia memiliki akal yang bersifat terbatas. Dan dari pertanyaan tentang tujuan hidupnya, manusia butuh bantuan untuk menjawabnya.

Lalu bantuan itu wujudnya apa? gw jawab dengan contoh berikut ini, “sebuah laptop agar bisa digunakan sesuai dengan fungsinya memerlukan apa? manual book atau juga bisa disebut buku petunjuk. Buku petunjuk tentang laptop boleh nggak yang buat tukang bajigur? udah jelas nggak boleh. Oleh karena itu, untuk hal yang sepele aja butuh buku petunjuk yang bersumber dari ahlinya, apalagi perkara itu tentang manusia, sudah tentu butuh buku petunjuk yang dibuat oleh yang nyiptain manusia itu sendiri yaitu Sang Khalik”.

Kesimpulannya, manusia itu adalah ciptaan Sang Khalik dan manusia itu bersifat terbatas serta untuk menjawab apa tujuan hidupnya, manusia butuh bantuan dari yang nyiptain manusia itu sendiri, lewat perantara sebuah buku petunjuk.

Minggu, 23 Maret 2014

Politik Islam untuk kepentingan Umat, bukan individu atau golongan!

Di sebuah mushalah kecil ada pengajian Fiqih mingguan yang biasa dihadiri masyarakat sekitar. Disebabkan telah melewati bulan Ramadhan dan awal Syawal, isi pengajiannya kembali membahas masalah thaharah. Tepatnya membahas tentang 3 jenis air (Mutlaq, Musta’mal dan Mutanajis) untuk sarana bersuci.

Saat pengajian ini akan selesai, pak Ustad pun mempersilahkan jamaah bertanya seputar yang dibahas tadi. Seorang mahasiswa menunjuk jari dan bertanya, “Ustad, bagaimana hukumnya privatisasi air yang akhir-akhir ini marak terjadi di sejumlah wilayah? Maksudnya sumber-sumber air telah dikuasai oleh seseorang lewat Undang-Undang dan siapapun yang ingin mendapatkannya diwajibkan membayar sejumlah tertentu. Bagaimana Islam memandang persoalan ini karena bisa jadi kita nanti berwudhu harus bayar?!”

Belum sempat pertanyaan tersebut dijawab oleh Ustad, tiba-tiba muncul celotehan dari mereka yang selalu mengaku ‘orang-orang awam’, “Jangan ngomongin ekonomi-politik dimasjid lah…!”, “Kalo nanya jangan susah-susah dong..!”, “Tanya sama pakarnya aja deh…!”

Ironis memang, perkara kebijakan politik-ekonomi yang sebenarnya dirasakan semua orang tapi kok agama dilarang membahasnya. Apakah agama kita gak bisa mengatur urusan publik ataukah kita sendiri yang memasung agama kita yang sudah sempurna dan kita yakini? Padahal Allah swt. telah berfirman,

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Q.S. Al-Maidah: 3)   

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu
turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”
(Q.S. Al-Baqarah: 208)

Inilah bukti bahwa Sekulerisme yaitu paham yang memisahkan agama dari kehidupan, telah bercokol kuat di benak masing-masing kita. Contoh lain Sekulerisme dalam perkara antar manusia, pernikahan misalnya, cenderung lebih kuat adat-istiadatnya ketika menyelenggarakan Akad dan Walimah. Padahal secara syar’i, pengantin calon mempelai laki-lakilah yang maju ber-ijab qabul dengan penghulu bukan satu kerudungan dengan pasangannya. Terhadap undangan yang hadir dalam Akad dan Walimah pun harusnya terpisah antara undangan laki-laki dan perempuan layaknya dalam shalat berjamaah. Mengapa? Karena keduanya (Akad dan Walimah) bagian dari ajaran Islam dalam pernikahan.

Namun apa yang terjadi saat ini, tak ubahnya pesta yang menyerupai kaum hedonis serta penuh kemubaziran. Belum lagi ditambah dengan acara berpose foto-foto pre-wedding yang nota-bene bukan adat-istiadat lokal melainkan tradisi ala Barat, toh ditelan juga oleh kebanyakan kita.          

Lagi-lagi terhadap fakta kedua di atas kebanyakan argumennya adalah, “Inikan acara keluarga, kita lagi happy…jangan bawa-bawa agama lah…nanti aja kalo kita sudah tua!” Untuk perkara nikah saja tak boleh ‘dipasung’ oleh agama terlebih lagi urusan politik-ekonomi dan lain-lain. Agar tidak jengah ke sana kemari, marilah kita bertanya, “Apakah Islam mengatur urusan politik?” jawabnya, “Ya!”

Dalam al-Qur’an, surat Ar-Ruum dikisahkan tentang keberadaan negara adidaya Romawi yang saat itu sebagai rival adidaya lain, Persia. Di zaman itulah panutan kita Rasulullah saw. dan para sahabat hidup dan berinteraksi dengan keduanya. Hal ini tercatat juga di Sirah Nabawiyah dengan diutusnya beberapa delegasi sahabat kepada dua imperium  ini agar memeluk Islam atau takluk kepada Islam dibawah kepemimpinan Rasulullah saw. Allah swt. berfirman,

“Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Ar-Ruum: 1-5)

Asbabun Nuzul kelima ayat tersebut sebagai berikut:

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa bersamaan dengan terjadinya Perang Badr, bangsa Romawi (Nasrani) berhasil mengalahkan Persia (Majusi). Kaum Mukminin merasa kagum dan gembira akan kemenangan tersebut. Maka turunlah ayat ini (Q.S. Ar-Ruum: 1-5) berkenaan dengan peristiwa tersebut –dengan catatan, kata ghulibat (artinya: dikalahkan) dibaca ghalabat (artinya: mengalahkan/menang) [Diriwayatkan oleh at-Thirmizi yang bersumber dari Abu Said. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Mas’ud.]

Dalam riwayat lain dikemukakan, ketika kaum Muslimin belum hijrah ke Madinah, kaum musyrikin berkata dengan berapi-api: “Kamu tahu bahwa orang-orang Romawi (ahli kitab yang percaya kepada Nabi Isa a.s.) telah dikalahkan oleh Majusi (penyembah api). Dan kalian menganggap akan mengalahkan kami dengan alasan kalian beriman kepada Kitab yang diturunkan kepada Nabi kalian. Bagaimana pandangan kalian sekarang, setelah kaum Majusi mengalahkan bangsa Romawi, padahal mereka (Romawi) itu ahli kitab. Karenanya kami pun pasti dapat mengalahkan kalian, seperti Persia mengalahkan Romawi.” Maka turunlah ayat ini (Q.S. Ar-Ruum: 1-5) yang menegaskan bahwa kekalahannya itu, bangsa Romawi kelak akan menang. [Diriwayatkan oleh Ibnu Adi Hatim yang bersumber dari Ibnu Syihab. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah, Yahya bin Ya’mar, dan Qatadah.]   

Dari dua riwayat Asbabun Nuzul tersebut menyiratkan juga bahwa terdapat surat yang awal dari ayat-ayatnya (2-5) berisi konstelasi politik dua Negara Adidaya (Romawi vs Persia). Yang jika salah satunya kalah akan berpengaruh pada politik/kepentingan dakwah Baginda Rasulullah saw.. Jelaslah sudah bahwa sebagai muslim kita harus selalu memantau situasi dunia beserta dinamikanya lalu menghukuminya dengan Syariat Islam. Kaum muslim harus juga paham tentang politik yaitu strategi untuk sebuah kepentingan umat.

Pertanyaan seorang pemuda di awal tadi adalah sebuah refleksi kepedulian politik terhadap kaum muslimin dan harusnya menjadi renungan bagi kita sejauh mana kepedulian kita terhadap agama maupun umat Islam baik keluarga, tetangga maupun di berbagai belahan dunia. Dan beliau sadar dan paham bahwa masalah kaum muslim bukan hanya pada tatacara ibadah saja melainkan juga hubungan sosial menyangkut kebijakan-kebijakan sepihak penguasa terhadap rakyatnya yang pastinya akan berdampak pula pada sulitnya mendapatkan sarana dan terlaksananya ibadah itu sendiri.    

Lalu politik/kepentingan seperti apa yang akan kita perjuangkan? Jika kaum Sekuler dengan partai-partainya (termasuk yang berlabel islam) di parlemen demokrasi sebagai pendukungnya, hanya memikirkan politik/kepentingan pribadi dan golongan? Maka selayaknya kita kaum muslim harusnya lebih mencurahkan politik kita pada ummat Islam. Politik Islam. Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, Baginda Rasulullah saw. bersabda,

“Barang siapa yang pada pagi hari hasratnya adalah selain Allah maka pada sisi Allah bukanlah apa-apa, dan barang siapa yang pagi harinya tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka dia bukan bagian dari mereka”.

Artinya kewajiban kita sebagai mahasiswa Islam paling urgent adalah dakwah yang bersifat politis (bukan yang hanya dibatasi perkara habluminallah saja tapi juga habluminannas) agar tumbuh kesadaran umat akan pentingnya penerapan sistem Islam menyeluruh.  

Lalu payung politik seperti apa yang bisa menaungi semua urusan kaum muslimin yang saat ini tercerai-berai tak berdaya? Sedangkan Demokrasi sebagai payung politik Sekuler hanya meninggal-kan kebijakan-kebijakan pro Kapitalis dan menindas rakyat lewat UU hasil Kotak Pandora Pemilu/Pilkadal 5 tahunan?

Payung Politik Islam itu adalah Khilafah, sebuah institusi yang mengayomi seluruh urusan kaum muslimin. Tentang Khilafah sendiri telah banyak ulama dan kitab-kitab pesantren yang membahasnya diantaranya,

“Perlu diketahui, bahwa menurut syari’at, setiap orang Islam wajib mengangkat seorang Imam yang dapat menegakkan hukum, menyetop perpecahan, menyiagakan pasukan, memungut zakat, menekan orang-orang zalim, pencuri, perampok, mengawinkan anak-anak yang tidak ada walinya, memberi putusan perselisihan yang terjadi di antara rakyat, menerima persaksian yang berlandaskan hak, mendirikan perkumpulan dan mem-peringati hari-hari besar. Seluruhnya itu dapat berjalan sempurna di kalangan kaum muslimin dengan adanya pimpinan yang menjadi tempat kembali umat dalam menyelesaikan urusannya, dapat menolak kerusakan-kerusakan, memelihara ke-maslahatan, mencegah keinginan nafsu, ambisi dan dapat dipercaya rakyat serta
mengerti aspirasi mereka.”
(Kitab Hushu-nul Hamidiyah, Sayid Husain Afandi / Sultan Abdul Hamid II)

“Al-Khilafah ialah suatu susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran agama Islam, sebagaimana dibawa dan dijalankan oleh Nabi Muhammad saw. semasa beliau hidup, dan kemudian dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar ash-Shiddiq ra, Umar bin Khaththab ra, Utsman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra.) Kepala negaranya dinamakan Khalifah.
Kaum muslim telah bersepakat (ijma’) bahwa hukum mendirikan Khila-fah itu Fardhu Kifayah atas semua kaum muslimin” (Fiqih Islam, H. Sulaiman Rasyid)

H. Sulaiman Rasyid dalam Fiqih Islam-nya menyebut kewajiban menegakkan Khilafah adalah Fardhu Kifayah yang maknanya adalah kewajiban yang dibebankan seluruh kaum muslim sampai perkara tersebut terlaksana. Apabila tidak terlaksana maka dosanya akan menimpa seluruh kaum muslimin. Hal ini sama seperti hukum menguburkan jenazah sampai terlaksana seluruhnya. Begitu juga dengan penegakkan Khilafah. 

Wahai Mahasiswa Islam...
Sudah bukan waktunya anda terus mengurung diri dalam rutinitas kuliah atas dasar mengejar karir. Agama kita adalah sempurna, tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Bukalah wa-wasan selagi anda masih diberikan ke-luasan oleh Allah swt..

Sudah saatnya anda menggabungkan diri bersama kelompok yang mem-perjuangkan Syariah dan Khilafah agar kezhaliman yang menimpa saudara-saudara kita bisa dilenyapkan. Alangkah indahnya mutiara nasihat dari Imam Ali Karamallahu Wajhahu, “Kejahatan yang terencana akan menghancurkan Kebaikan yang tidak tersusun rapi!”