Pemuda,
siapa yang tak kenal kata yang satu ini? Hampir
semua orang mengerti akan makna dari satu kata sederhana ini. Dia bak pelita di
ujung harapan. Dia
adalah tonggak suatu peradaban. Pemuda adalah generasi yang akan meneruskan kehidupan sebuah
negara. Dia memiliki peran
penting dalam sejarah kemerdekaaan Indonesia maupun sejarah penyebaran agama
Islam selama 1300 tahun lamanya. Ibarat matahari
maka usia muda ibarat jam 12 ketika matahari bersinar paling terang dan paling
panas (Yusuf Qardhawi).
Pemuda dengan Sumpah Pemuda-nya
Masih ingat dengan peristiwa Sumpah
Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928? Sumpah Pemuda ini berisi
tentang janji dari para pemuda Indonesia yang akan setia berbangsa Indonesia,
Bertanah air Indonesia dan berbahasa Indonesia.
Ini merupakan
janji pemuda Indonesia pada masa lalu yang akhirnya berbuah kemerdekaan hingga
saat ini. Pemuda Indonesia
juga memiliki tujuan mulia yaitu menjadikan negeri ini negeri yang bermoral,
bermartabat, peduli dengan sesama dan hidup dalam kesejahteraan. tapi
pertanyaannya, apakah semua tujuan tersebut telah tercapai??
Fakta pemuda saat ini
Berdasarkan data yang disampaikan
Komisi Nasional Perlindungan Anak pada tahun 2008, dari 4.726 responden siswa
SMP dan SMA di 17 kota besar, sebanyak 62,7 % remaja SMP sudah tidak perawan
dan 21,2% remaja mengaku pernah aborsi (Kompas.com, 14/03/12). Zoy
Amirin, pakar psikologi seksual dari Universitas Indonesia, mengutip Sexual
Behavior Survey 2011, menunjukkan 64 % anak muda di kota-kota besar Indonesia
‘belajar’ seks melalui film porno atau DVD bajakan. akibatnya, 39 % responden
ABG usia 15-19 tahun sudah pernah berhubungan seksual, sisanya 61% berusia
20-25 tahun. survei yang didukung pabrik kondom Fiesta itu mewawancarai 663
responden berusia 15-25 tahun tentang perilaku seksnya di Jabodetabek, Bandung,
Yogyakarta, Surabaya dan Bali pada bulan Mei 2011. penyalahgunaan narkoba
dikalangan pemuda pun makin menggila. Badan Narkotika Nasional menemukan bahwa
50-60% pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan pelajar dan mahasiswa.
total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI
adalah sebanyak 3,8 sampai 4,2 juta. diantara jumlah itu, 48% diantaranya adalah pecandu dan sisanya
sekedar coba-coba dan pemakai.
Berdasarkan data diatas, terbukti bahwa
mayoritas para pemuda saat ini lebih
menggunakan energinya untuk memenuhi nafsunya saja tanpa memperhatikan resiko
yang akan ditimbulkan. Mereka juga hidup dengan penuh kebebasan, melakukan
segala sesuatu semaunya saja dan berlomba-lomba untuk meraih kebahagiaan dunia
sebanyak-banyaknya, tanpa memperdulikan bertentangan dengan agama ataukah
tidak. Tujuan hidup
kebanyakan para pemuda saat ini pun banyak yang bertentangan dengan aturan
Tuhannya. Mereka hanya
mencari kepuasan diri dan merasa ingin diakui oleh orang-orang disekitarnya
walaupun dengan cara yang tidak pantas untuk dilakukan. Mayoritas pemuda saat ini lebih senang
hang out bersama teman-temannya, nongkrong di mall, menghabiskan uang di
distro-distro, shoppingholic, berburu
gadget terbaru dan barang-barang branded, sibuk di jejaring sosial dunia
maya atau ikut-ikutan generasi alay. Parahnya, ini semua dilakukan oleh
generasi kebanggaan dan dambaan ummat mulai dari anak-anak, remaja, bahkan para
mahasiswa.
Saat ini para mahasiswa juga disibukkan
dengan berbagai tugas, entah tugas dari dosen ataupun tugas dari organisasi
kampus.Mereka seperti dilingkari dengan aktivitas rumah-kampus-rumah yang pada
akhirnya banyak dari mereka yang merasa jumud. ketika perkuliahan selesai, para
mahasiswa ini lebih senang mencari hiburan seperti hal-hal diatas sebagai refreshing yang pada akhirnya banyak
waktu mereka yang terbuang percuma. Dan akibatnya, banyak para mahasiswa yang
akhirnya menjadi apatis terhadap keadaan sekitarnya dan malas untuk berpikir
mengenai berbagai masalah yang ada di negeri ini sekalipun masalah tersebut
sebenarnya adalah masalah yang akan menghancurkan negeri ini secara perlahan.
Apa
Penyebabnya?
Hampir di seluruh dunia terutama
Indonesia mengalami kemerosotan berpikir. budaya-budaya barat mulai bercokol
dalam setiap negeri. pengaruh kapitalis-sekuler-liberalis mulai berhembus
kencang ditengah-tengah masyarakat. Asas sekulerisme yakni pemisahan agama
mulai diterapkan ditengah-tengah kehidupan, agama dikesampingkan dan hanya
digunakan dalam aktivitas ibadah saja, sementara dalam kehidupan
sehari-hariaturan dibuat sendiri sesuai kemauan dan manfaat. Inilah akar
permasalahan kehidupan yang ada dinegeri ini. Agama yang seharusnya menjadi
pedoman bagi umat manusia dalam kehidupan justru digantikan dengan aturan
buatan manusia sendiri yang sebenarnya memiliki banyak kelemahan dan
kekurangan, bahkan melahirkan kesengsaraan bagi manusia sendiri.
Sederet potert buram kehidupan pemuda
saat ini menjadi bukti kegagalan sistem kapitalis-sekuler yang bersarang dalam
seluruh aspek
kehidupan seperti pendidikan, keluarga, lingkungan dan negara.
Institusi pendidikan dinegeri ini dapat
dikatakan buruk.Pendidikan
yang seharusnya mencetak generasi cemerlang justru lebih banyak mencetak
generasi jumud dan apatis-pragmatis.Banyak
guru yang hanya mentransfer ilmu tanpa menghubungkan dengan nilai-nilai agama.Bahkan mengajar pun dilakukan hanya
untuk menggugurkan kewajiban. Banyak guru yang merasa terbebani
dengan setumpuk bahan ajar yang harus disampaikan kepada siswanya. Selain
itu para guru juga dipusingkan dengan masalah ekonomi yang sangat menghimpit, di sisi lain biaya pendidikan
yang tinggi pun memaksa generasi penerus negeri ini untuk tidak mengenyamnya.
Sistem kapitalis tak hanya merusak
pendidikan, keluarga pun terkena imbasnya. keluarga merupakan pendidik utama
bagi setiap insan sistem kapitalisme memaksa orangtua abai terhadap pendidikan
anaknya. Beban hidup yang
semakin mencekik memaksa kedua orangtua untuk bekerja hingga jauh malam.Sibuknya orangtua membuat waktu
kebersamaan keluarga menjadi mahal harganya.Anak
pun terabaikan. Pada akhirnya banyak anak yang
melarikan diri ke televisi, internet, HP dan media elektronik lainnya. Padahal
dari media-media tersebutlah anak mendapatkan pengaruh buruk tentang pergaulan
bebas, hidup konsumtif, kekerasan dan aktivitas kriminal lainnya.Anak tidak mengenal kasih sayang, perhatian justru didapat dari teman,
geng bahkan komunitas lain dijalanan dan lingkungan masyarakat yang sudah tak
lagi bersahabat.
Apa solusinya?
Semua fakta diatas terjadi karena
kehidupan masyarakat saat ini didasari dengan asas pemisahan agama dari kehidupan,
akibat diterapkannya sistem Kapitalisme. maka solusi yang mampu menyelesaikan semua
problematika ini adalah memperbaiki sistem yang ada dengan mengembalikan agama
dalam kehidupan. Agama tak hanya
digunakan dalam ibadah saja, tapi agama juga dijadikan pedoman dan standar
kehidupan.
Tak hanya itu, keluarga, pendidikan,
masyarakat dan negara pun turut andil dalam menyelesaikan problema ini.
semuanya harus bersinergis dan bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian
yang baik dan mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi para pemuda.
Keluarga merupakan institusi pertama
dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Disanalah pertama kali dasar-dasar
keislaman ditanamkan. Anak dibimbing orangtuanya bagaimana ia mengenal Penciptanya
agar kelak ia hanya mengabdi kepada sang Pencipta, Allah SWT. Keluarga harus mengarahkan
anak agar dewasa secara pemikiran (aqil) seiring dengan kedewasaannya secara
biologis (baligh) dan Orang tua (terutama ibu) meningkatkan daya pengaruhnya terhadap
anak sebagai langkah pengarahan individual.
Masyarakat, mempunyai peran penting
dalam pertumbuhan dan perkembangan pemuda. Masyarakat merupakan sekumpulan orang yang memiliki perasaan, pemikiran
dan peraturan yang sama. Dalam interaksi pun diatur dengan aturan yang sama. tatkala
masyarakat ini memandang betapa pentingnya menjaga suasana kondusif bagi
pertumbuhan dan perkembangan generasi muda, maka masyarakat akan sepakat
memandang mana pengaruh yang akan membawa pengaruh negatif dan mana yang membawa
pengaruh positif. Jika ada aktivitas
yang membawa pengaruh negatif maka masyarakat akan bersama-sama mencegahnya dan
mengalihkan aktivitas tersebut kepada hal yang lebih bermanfaat. Inilah peran penting masyarakat sebagai
kontrol sosial.
Adapun pendidikan, secara paradigmatik
pendidikan harus dikembalikan pada asas akidah Islam yang akan menjadi dasar
penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai
ilmu pengetahuan serta proses belajar-mengajar, termasuk penentuan kualifikasi
guru/dosen serta budaya sekolah/ kampus tempat pemuda eksis didalamnya. Pendidikan berasaskan islam harus
diajarkan kepada pemuda sejak TK hingga universitas yang pada ujungnya nanti
mampu manghasilkan output peserta didik yang berkualitas dan juga berkepribadian
islam. Tak hanya
menguasai teknologi, peserta didik pun diharapkan mampu menguasai tsaqafah
islam dan ilmu-ilmu kehidupan.
Negara sebagai penyelenggara pendidikan
haruslah menerapkan kurikulum yang menjamin tercapainya generasi berkualitas. Negara juga wajib mencukupi segala
sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan pendidikan secara layak,
menyediakan pendidikan bebas biaya bagi rakyatnya, serta menyediakan
pendidik-pendidik yang handal. seorang pendidik haruslah menjadi teladan bagi
anak didiknya, mempunyai semangat pengabdian yang tinggi. seorang pendidik
bukan sekedar penyampai ilmu, tetapi juga seorang pendidik pembina generasi. Dan agar pendidik mampu menjalankan
tugasnya dengan baik bawa negara haruslah menjamin penghidupan atas mereka.
Lebih dari itu negara pun harus
mengontrol dan menindak tegas hal-hal yang akan merusak generasi, terutama
media yang banyak memberikan pengaruh negatif terhadap generasi.
Peran negara yang seperti ini tentu
tidak terdapat dalam sistem kapitalis. hanya negara yang menerapkan Islam kaffahlah yang mampu menjalankan peran ini. Oleh karena itu berharap menghapus
potret buram kehidupan pemuda pada sistem kapitalis ini bagaikan mimpi di siang
bolong. Karena itu sudah
saatnya menghapus potret buram pemuda dengan tatanan aturan yang berasal dari
Allah SWT berupa Khilafah Islamiyah . (FRA)
Wallahualam bi ash shawwab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar