Minggu, 16 November 2014

KRISIS GENERASI DAMBAAN UMMAT

Pemuda, siapa yang tak kenal kata yang satu ini? Hampir semua orang mengerti akan makna dari satu kata sederhana ini. Dia bak pelita di ujung harapan. Dia adalah tonggak suatu peradaban. Pemuda adalah generasi yang akan meneruskan kehidupan sebuah negara. Dia memiliki peran penting dalam sejarah kemerdekaaan Indonesia maupun sejarah penyebaran agama Islam selama 1300 tahun lamanya. Ibarat matahari maka usia muda ibarat jam 12 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas (Yusuf Qardhawi).

Pemuda dengan Sumpah Pemuda-nya
Masih ingat dengan peristiwa Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928? Sumpah Pemuda ini berisi tentang janji dari para pemuda Indonesia yang akan setia berbangsa Indonesia, Bertanah air Indonesia dan berbahasa Indonesia.  Ini merupakan janji pemuda Indonesia pada masa lalu yang akhirnya berbuah kemerdekaan hingga saat ini. Pemuda Indonesia juga memiliki tujuan mulia yaitu menjadikan negeri ini negeri yang bermoral, bermartabat, peduli dengan sesama dan hidup dalam kesejahteraan. tapi pertanyaannya, apakah semua tujuan tersebut telah tercapai??

Fakta pemuda saat ini
Berdasarkan data yang disampaikan Komisi Nasional Perlindungan Anak pada tahun 2008, dari 4.726 responden siswa SMP dan SMA di 17 kota besar, sebanyak 62,7 % remaja SMP sudah tidak perawan dan 21,2% remaja mengaku pernah aborsi (Kompas.com, 14/03/12). Zoy Amirin, pakar psikologi seksual dari Universitas Indonesia, mengutip Sexual Behavior Survey 2011, menunjukkan 64 % anak muda di kota-kota besar Indonesia ‘belajar’ seks melalui film porno atau DVD bajakan. akibatnya, 39 % responden ABG usia 15-19 tahun sudah pernah berhubungan seksual, sisanya 61% berusia 20-25 tahun. survei yang didukung pabrik kondom Fiesta itu mewawancarai 663 responden berusia 15-25 tahun tentang perilaku seksnya di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali pada bulan Mei 2011. penyalahgunaan narkoba dikalangan pemuda pun makin menggila. Badan Narkotika Nasional menemukan bahwa 50-60% pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI adalah sebanyak 3,8 sampai 4,2 juta. diantara jumlah itu, 48%  diantaranya adalah pecandu dan sisanya sekedar coba-coba dan pemakai.
Berdasarkan data diatas, terbukti bahwa mayoritas  para pemuda saat ini lebih menggunakan energinya untuk memenuhi nafsunya saja tanpa memperhatikan resiko yang akan ditimbulkan. Mereka juga hidup dengan penuh kebebasan, melakukan segala sesuatu semaunya saja dan berlomba-lomba untuk meraih kebahagiaan dunia sebanyak-banyaknya, tanpa memperdulikan bertentangan dengan agama ataukah tidak. Tujuan hidup kebanyakan para pemuda saat ini pun banyak yang bertentangan dengan aturan Tuhannya. Mereka hanya mencari kepuasan diri dan merasa ingin diakui oleh orang-orang disekitarnya walaupun dengan cara yang tidak pantas untuk dilakukan. Mayoritas pemuda saat ini lebih senang hang out bersama teman-temannya, nongkrong di mall, menghabiskan uang di distro-distro, shoppingholic, berburu gadget terbaru dan barang-barang branded, sibuk di jejaring sosial dunia maya atau ikut-ikutan generasi alay. Parahnya, ini semua dilakukan oleh generasi kebanggaan dan dambaan ummat mulai dari anak-anak, remaja, bahkan para mahasiswa.
Saat ini para mahasiswa juga disibukkan dengan berbagai tugas, entah tugas dari dosen ataupun tugas dari organisasi kampus.Mereka seperti dilingkari dengan aktivitas rumah-kampus-rumah yang pada akhirnya banyak dari mereka yang merasa jumud. ketika perkuliahan selesai, para mahasiswa ini lebih senang mencari hiburan seperti hal-hal diatas sebagai refreshing yang pada akhirnya banyak waktu mereka yang terbuang percuma. Dan akibatnya, banyak para mahasiswa yang akhirnya menjadi apatis terhadap keadaan sekitarnya dan malas untuk berpikir mengenai berbagai masalah yang ada di negeri ini sekalipun masalah tersebut sebenarnya adalah masalah yang akan menghancurkan negeri ini secara perlahan.

Apa Penyebabnya?
Hampir di seluruh dunia terutama Indonesia mengalami kemerosotan berpikir. budaya-budaya barat mulai bercokol dalam setiap negeri. pengaruh kapitalis-sekuler-liberalis mulai berhembus kencang ditengah-tengah masyarakat. Asas sekulerisme yakni pemisahan agama mulai diterapkan ditengah-tengah kehidupan, agama dikesampingkan dan hanya digunakan dalam aktivitas ibadah saja, sementara dalam kehidupan sehari-hariaturan dibuat sendiri sesuai kemauan dan manfaat. Inilah akar permasalahan kehidupan yang ada dinegeri ini. Agama yang seharusnya menjadi pedoman bagi umat manusia dalam kehidupan justru digantikan dengan aturan buatan manusia sendiri yang sebenarnya memiliki banyak kelemahan dan kekurangan, bahkan melahirkan kesengsaraan bagi manusia sendiri.
Sederet potert buram kehidupan pemuda saat ini menjadi bukti kegagalan sistem kapitalis-sekuler yang bersarang dalam seluruh aspek kehidupan seperti pendidikan, keluarga, lingkungan dan negara.
Institusi pendidikan dinegeri ini dapat dikatakan buruk.Pendidikan yang seharusnya mencetak generasi cemerlang justru lebih banyak mencetak generasi jumud dan apatis-pragmatis.Banyak guru yang hanya mentransfer ilmu tanpa menghubungkan dengan nilai-nilai agama.Bahkan mengajar pun dilakukan hanya untuk menggugurkan kewajiban. Banyak guru yang merasa terbebani dengan setumpuk bahan ajar yang harus disampaikan kepada siswanya. Selain itu para guru juga dipusingkan dengan masalah ekonomi yang sangat menghimpit, di sisi lain biaya pendidikan yang tinggi pun memaksa generasi penerus negeri ini untuk tidak mengenyamnya.
Sistem kapitalis tak hanya merusak pendidikan, keluarga pun terkena imbasnya. keluarga merupakan pendidik utama bagi setiap insan sistem kapitalisme memaksa orangtua abai terhadap pendidikan anaknya. Beban hidup yang semakin mencekik memaksa kedua orangtua untuk bekerja hingga jauh malam.Sibuknya orangtua membuat waktu kebersamaan keluarga menjadi mahal harganya.Anak pun terabaikan. Pada akhirnya banyak anak yang melarikan diri ke televisi, internet, HP dan media elektronik lainnya. Padahal dari media-media tersebutlah anak mendapatkan pengaruh buruk tentang pergaulan bebas, hidup konsumtif, kekerasan dan aktivitas kriminal lainnya.Anak tidak mengenal kasih sayang, perhatian justru didapat dari teman, geng bahkan komunitas lain dijalanan dan lingkungan masyarakat yang sudah tak lagi bersahabat.

Apa solusinya?
Semua fakta diatas terjadi karena kehidupan masyarakat saat ini didasari dengan asas pemisahan agama dari kehidupan, akibat diterapkannya sistem Kapitalisme. maka solusi yang mampu menyelesaikan semua problematika ini adalah memperbaiki sistem yang ada dengan mengembalikan agama dalam kehidupan. Agama tak hanya digunakan dalam ibadah saja, tapi agama juga dijadikan pedoman dan standar kehidupan.
Tak hanya itu, keluarga, pendidikan, masyarakat dan negara pun turut andil dalam menyelesaikan problema ini. semuanya harus bersinergis dan bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian yang baik dan mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi para pemuda.
Keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Disanalah pertama kali dasar-dasar keislaman ditanamkan. Anak dibimbing orangtuanya bagaimana ia mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada sang Pencipta, Allah SWT. Keluarga harus mengarahkan anak agar dewasa secara pemikiran (aqil) seiring dengan kedewasaannya secara biologis (baligh) dan Orang tua (terutama ibu) meningkatkan daya pengaruhnya terhadap anak sebagai langkah pengarahan individual.
Masyarakat, mempunyai peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan pemuda. Masyarakat merupakan sekumpulan orang yang memiliki perasaan, pemikiran dan peraturan yang sama. Dalam interaksi pun diatur dengan aturan yang sama. tatkala masyarakat ini memandang betapa pentingnya menjaga suasana kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi muda, maka masyarakat akan sepakat memandang mana pengaruh yang akan membawa pengaruh negatif dan mana yang membawa pengaruh positif. Jika ada aktivitas yang membawa pengaruh negatif maka masyarakat akan bersama-sama mencegahnya dan mengalihkan aktivitas tersebut kepada hal yang lebih bermanfaat. Inilah peran penting masyarakat sebagai kontrol sosial.
Adapun pendidikan, secara paradigmatik pendidikan harus dikembalikan pada asas akidah Islam yang akan menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar-mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru/dosen serta budaya sekolah/ kampus tempat pemuda eksis didalamnya. Pendidikan berasaskan islam harus diajarkan kepada pemuda sejak TK hingga universitas yang pada ujungnya nanti mampu manghasilkan output peserta didik yang berkualitas dan juga berkepribadian islam. Tak hanya menguasai teknologi, peserta didik pun diharapkan mampu menguasai tsaqafah islam dan ilmu-ilmu kehidupan.
Negara sebagai penyelenggara pendidikan haruslah menerapkan kurikulum yang menjamin tercapainya generasi berkualitas. Negara juga wajib mencukupi segala sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan pendidikan secara layak, menyediakan pendidikan bebas biaya bagi rakyatnya, serta menyediakan pendidik-pendidik yang handal. seorang pendidik haruslah menjadi teladan bagi anak didiknya, mempunyai semangat pengabdian yang tinggi. seorang pendidik bukan sekedar penyampai ilmu, tetapi juga seorang pendidik pembina generasi. Dan agar pendidik mampu menjalankan tugasnya dengan baik bawa negara haruslah menjamin penghidupan atas mereka.
Lebih dari itu negara pun harus mengontrol dan menindak tegas hal-hal yang akan merusak generasi, terutama media yang banyak memberikan pengaruh negatif terhadap generasi.
Peran negara yang seperti ini tentu tidak terdapat dalam sistem kapitalis. hanya negara yang menerapkan Islam kaffahlah  yang mampu menjalankan peran ini. Oleh karena itu berharap menghapus potret buram kehidupan pemuda pada sistem kapitalis ini bagaikan mimpi di siang bolong. Karena itu sudah saatnya menghapus potret buram pemuda dengan tatanan aturan yang berasal dari Allah SWT berupa Khilafah Islamiyah . (FRA)


Wallahualam bi ash shawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar