Kamis, 17 April 2014

SILANG PENDAPAT teori KEPRIBADIAN (Islam vs Jahiliyah)

Dalam menggali potensi Sumber Daya Manusia yang sangat dibutuhkan saat ini oleh sistem Kapitalisme, Kepribadian menjadi faktor penentu masa depan seseorang. Tinggi-rendah, baik-buruk, maupun pintar-bodohnya manusia mengindikasikan sifat kepribadian. Maka dari itu untuk mencari standarisasi Kepribadian yang mapan diperlukan seorang konsultan berikut disiplin ilmunya. Psikologi dan para psikolog, 2 kata yang akrab dalam menganalisa kepribadian, sangat familiar dalam hal ini.

Para psikolog dengan beragam teori serta metodenya mempunyai banyak persepsi mengenai Kepribadian. Sebut saja, Sigmund Freud yang terkenal dengan Psikoanalisis-nya menyatakan bahwa seksualitas merupakan faktor utama penggerak kehidupan manusia. Dia berpandangan bahwa seksualitas tak boleh dicegah karena bisa membuat manusia kehilangan orientasi hidup (sakit jiwa). Lalu dia juga menyatakan, bahwa menjaga diri dari praktek hubungan seksual sebelum kawin sering mengakibatkan rusaknya insting ketika kawin. Artinya seksualitas tidak ubahnya kebutuhan pokok seperti makan-minum-tidur, yang jika tidak terpenuhi manusia akan mengalami kematian. Inilah yang menjadikan masyarakat Barat sangat permisif atas perkara hubungan sosial pria-wanita dimana sex bebas merupakan perkara normal bahkan asasi.


Teori-teori Sigmund Freud sekarang ini mulai ditinggalkan, disebabkan tidak menghasilkan solusi jitu bagi pembentukan Kepribadian manusia. Di masa sekarang seorang psikolog, Florence Littauer, memunculkan teori tentang 4 elemen dasar Kepribadian. Bukunya yang berjudul Personality Plus bertema ‘Bagaimana memahami orang lain dengan memahami diri sendiri’, menjadikannya buku terlaris dengan beberapa kali cetak dan revisi. Littauer membagi manusia menjadi 4 tipe yaitu Sanguinis, Koleris, Melankolis, dan Phlegmatis beserta sisi positif dan negatifnya.

Padahal betulkah manusia hanya mempunyai satu tipe seperti penjelasan Littauer? Selain itu seseorang bisa saja menjadi Melankolis atau lainnya sesuai dengan situasi / kondisi. Terlebih dengan adanya informasi juga bisa mengubah persepsi orang tadi.

Pizzaro Novelan Tauhidi, dalam artikelnya, ”Theosofi: Kalau Mau Menjadi Muslim Sejati, Lafaz Allah harus Diartikan Air, Api, Angin, dan Bumi”, juga mengkritik faham yang dibawa Florence Littauer ini. Menurutnya pula, bahwa teori 4 elemen dasar kepribadian ini merupakan modifikasi atas teori-nya Hippocrates, 400 tahun sebelum Masehi. Bahkan jika menganalisa lebih jauh ternyata 4 elemen dasar ini ada dalam kitab Zohar dan merupakan salah satu kitab ajaran Kabbala, aliran kebatinan Yahudi tentang penciptaan Alam semesta (Makrokosmos) dan Nabi Adam (Mikrokosmos). 

Dalam buku Psikologi Tarot, Tawaran Alternatif Konseling lewat Kartu Tarot, Mengkaji Tarot melalui pendekatan ilmu psikologi dan mematahkan konsep tarot sekadar ilmu klenik semata, karangan Leonardo Rimba dan Audifax, hal. 61 dijelaskan juga melalui tabel tentang 4 elemen dasar penciptaan yaitu udara, api, air, bumi:


Dengan mengamati tabel tersebut tersingkaplah bahwa gambaran Tuhan yang menurut ajaran Kabbala itu bernama YHWH (baca: Yahweh), pada baris Tetragrammanton, digambarkan lewat 4 unsur (air, api, tanah, udara) dan termanifestasi dalam 4 Kartu utama Tarot :


Tradisi meramal nasib lewat Kartu Tarot merupakan aktivitas konsultasi seseorang mengenai masa depan. Ajaran Islam secara tegas mengharamkan perbuatan ini:

Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan percaya kepada ucapannya maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad Saw. (Hadits Riwayat Abu Dawud)

Allah Swt. dalam al-Quran juga menjelaskan tentang ketidaktahuan bangsa jin (atas rahasia langit / nasib manusia), yang menjadi informan kepada para peramal:

Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. (Quran Surah Al-Jiin: 8-10)

Walhasil, apa yang dirumuskan oleh Littauer bukan hal baru, melainkan konsep Jahiliyah Modern. Akan tetapi syaithan, baik yang berupa jin dan manusia sangat hebat mengemas kekafiran supaya terus dipakai manusia di setiap zaman-nya. Padahal inti dari ajaran ini sama, hanya beda covernya saja.                    

Sesungguhnya dalam kehidupan beserta interaksinya, kita menemukan dua hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu Hadharah dan Madaniyah. Hadharah adalah sekumpulan mafahim (ide yang dianut dan mempunyai fakta) tentang kehidupan. Sedangkan Madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera serta digunakan dalam seluruh aspek kehidupan. (Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhamul Islam bab Hadharah Islam)

Hadharah bersifat khas karena terkait dengan persepsi suatu kaum alias pandangan hidup. Akan tetapi Madaniyah bisa bersifat khas atau bisa juga bersifat umum. Yang khas yaitu bentuk fisik yang mencirikan simbol kaum tertentu seperti salib, bintang hexagram, palu arit, jangka siku freemason, mata satu illuminati, swastika, dll.


Seorang muslim dilarang menggunakan madaniyah seperti ini karena bisa menimbulkan dugaan ’termasuk bagian dari kaum tersebut’. Selain itu ada juga larangan dari Rasulullah Saw. tentang ber-tasyabuh (menyerupai orang kafir). Lalu yang bersifat umum meliputi bentuk fisik juga, seperti hasil kemajuan sains dan teknologi adalah materi bebas nilai. Ilmu-ilmu Sosial yang notabene subjektif dan tergantung ’pencipta’ teorinya, tergolong sebagai Hadharah. Apalagi yang menyangkut filsafat, agama atau ramalan dengan bungkus Psikologi seperti di atas.

Lalu seperti apa kita mendefinisikan Personality / Kepribadian secara objektif? Definisi yang bukan berdasarkan kesimpulan sepihak / subjektif, melainkan yang masuk akal, sesuai fitrah, dan menenangkan hati??? Apakah Islam tidak mengajarkan pembentukan Kepribadian?

Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani merumuskan bahwa Kepribadian atau Syakhsiyah adalah perpaduan pola pikir dan pola sikap yang ada pada manusia. Kepribadian Islam adalah penyatuan pola pikir dan pola sikap yang terikat dengan aturan Allah swt. Baik buruknya pribadi manusia bergantung dari persepsi yang gunakannya memahami fakta sebagai pola pikir dan tindakannya terhadap fakta tersebut sebagai pola sikap. Maka untuk memperbaiki / mengubah kepribadian seseorang diperlukan pemahaman yang solutif sebagai persepsinya.    


Jika kita bedah dalam diri manusia, yang disebut pola pikir (Aqliyah) itu meliputi aktivitas menganalisa dan menghukumi fakta / peristiwa yang ada. Namun sebatas menganalisa dan menghukumi saja tidak dapat disebut berpikir melainkan hanya menduga-duga. Cara agar terbentuk pola pikir adalah memberikan informasi yang jelas atas sebuah fakta / peristiwa. Bagi kita, kaum muslim, informasi untuk menghukumi fakta (alam semesta, manusia, dan kehidupan) adalah Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. sebagai pedoman hidup.

Selain pola pikir, ada juga pola sikap (Nafsiyah) yaitu tindakan seseorang setelah memahami fakta / peristiwa. Dalam diri manusia terdapat dua unsur pemenuhan untuk menjalani kehidupannya, yaitu Naluri dan Kebutuhan Jasmani. Mengenai Naluri terdapat 3 jenis yang ada pada semua orang yaitu Agama, Cinta dan Pertahanan diri. Disamping itu, ada juga yang disebut Kebutuhan Jasmani seperti makan, minum, istirahat, dan buang hajat. Tindakan yang diambil seseorang dalam menjalani kehidupan ini pada dasarnya melibatkan dua unsur pemenuhan tadi.

Jika tidak dipenuhi Kebutuhan Jasmaninya maka dia akan menemui kematian dan jika tidak dipenuhi Nalurinya maka akan menyebabkan kehampaan, kegelisahan bahkan kesesatan. Contohnya, orang yang tak beragama tidak mengalami kematian tetapi kekosongan total-lah yang menyelimuti tujuan hidupnya. Orang yang tidak menikah akan hampa tanpa seorang pendamping, tapi tidak berakibat kematian baginya. Inilah bantahan telak atas pendapat Sigmund Freud yang menyatakan seksualitas sebagai kebutuhan biologis (jika tak dipenuhi akan mati). Lalu orang yang tidak mempertahankan diri dengan pembelaan atas perkara yang menimpanya, akan kehilangan harga diri walaupun tidak berakibat kematian baginya.

Lalu bagaimanakah cara memenuhi Naluri dan Kebutuhan Jasmani agar terbentuk Kepribadian Islami? Jika anda lapar, makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Juga makanlah yang halal dan baik. Jika anda suka / cinta seseorang, maka nikahilah agar diri dan pasangan anda selamat serta dikaruniai keturunan sebagai pelanjut generasi. Jika dalam diri anda muncul semangat beribadah, ikutilah Rasulullah saw., manusia pertama yang mulia di antara 100 tokoh dunia. Jangan ikuti petuah sesat semodel Gatoloco, Darmogandul dll yang tak jelas riwayatnya. Jika diri, keluarga dan agama dilecehkan maka lawanlah dengan berjihad karena itu jalan praktis melindungi semuanya.    

Maka dari itulah seorang muslim selayaknya wajib menggunakan Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. sebagai pola pikirnya dan mengikatkan segala tindakannya dengan keduanya melalui 5 Pilar Hukum Islam yaitu Wajib, Sunnah, Haram, Makruh dan Mubah. Jika seorang muslim tidak mengikatkan pola pikir dan pola sikapnya dengan Islam, akibatnya bisa terjadi split personality atau Kepribadian Amburadul.